The Intouchables: Filsafat Persahabatan Aristotelian, Kebebasan Eksistensial, dan Penolakan Terhadap Simpati yang Melumpuhkan pastirumah.com
General
5 Juni 2026
5 menit baca
Author pastirumah.com

The Intouchables: Filsafat Persahabatan Aristotelian, Kebebasan Eksistensial, dan Penolakan Terhadap Simpati yang Melumpuhkan

Berdasarkan kisah nyata persahabatan antara Philippe Pozzo di Borgo dan Abdel Sellou, film Prancis The Intouchables (2011) garapan sutradara Olivier Nak...

Detail Artikel

Kategori

General

Dipublikasikan

5 Juni 2026

Estimasi Baca

5 menit

Berdasarkan kisah nyata persahabatan antara Philippe Pozzo di Borgo dan Abdel Sellou, film Prancis The Intouchables (2011) garapan sutradara Olivier Nakache dan Éric Toledano berhasil membalikkan semua pakem drama melankolis tentang disabilitas. Di permukaan, ini adalah komedi hangat tentang persahabatan dua orang dari latar belakang yang bertolak belakang.

Namun, secara filosofis, film ini adalah sebuah traktat yang mendalam mengenai bagaimana manusia saling memanusiakan, hakikat dari sebuah kebebasan eksistensial, dan dekonstruksi terhadap konsep moralitas "belas kasihan" (pity).

Berikut adalah bedah filosofi mendalam dari The Intouchables:

1. Persahabatan Kebajikan (Virtue Friendship) ala Aristoteles

Dalam mahakaryanya Nicomachean Ethics, filsuf Yunani Aristoteles membagi persahabatan menjadi tiga jenis: persahabatan berbasis manfaat (utility), persahabatan berbasis kesenangan (pleasure), dan persahabatan berbasis kebajikan (virtue). Hubungan antara Philippe dan Driss adalah manifestasi sempurna dari jenis yang ketiga.

  • Bukan Transaksi: Philippe adalah seorang miliarder quadriplegic (lumpuh dari leher ke bawah), sementara Driss adalah seorang imigran miskin asal Senegal yang memiliki catatan kriminal dan hanya butuh tanda tangan penolakan kerja untuk mencairkan uang tunjangan sosial.

  • Saling Mengangkat Derajat: Persahabatan mereka tidak dimulai karena mereka saling membutuhkan secara materi atau status sosial. Mereka bertumbuh karena mereka melihat "potensi kemanusiaan" dalam diri satu sama lain. Driss membantu Philippe keluar dari penjara emosional akibat kelumpuhan dan duka kematian istrinya, sementara Philippe memberi Driss ruang, apresiasi terhadap seni, dan struktur hidup yang membuatnya keluar dari lingkaran kriminalitas jalanan.

2. Kritik Terhadap Simpati yang Melumpuhkan Jiwa

Pertanyaan filosofis terbesar dalam film ini adalah: Mengapa Philippe memilih Driss, seorang pria berandal yang tidak punya kualifikasi medis sama sekali, untuk menjadi perawat pribadinya?

Jawaban Philippe sangat lugas dan filosofis:

"Dia tidak memiliki belas kasihan padaku. Dia sering menyerahkan telepon genggam kepadaku karena dia lupa tanganku tidak bisa bergerak. Dia tinggi, kuat, punya dua tangan, dua kaki, otak yang sehat... dan dia tidak punya rasa kasihan. Itulah yang aku butuhkan dari seorang manusia."

Philippe menolak Simpati Profesional yang ditawarkan oleh pelamar lain. Bagi Philippe, belas kasihan (pity/compassion) sering kali bersifat hierarkis dan merendahkan—ia menempatkan si pemberi kasihan di posisi yang lebih tinggi dan memperlakukan si penerima sebagai objek yang rapuh dan cacat. Driss, dengan kekasarannya, kebiasaan mengejeknya, dan ketidakpeduliannya pada formalitas, memperlakukan Philippe sebagai manusia biasa yang setara.

3. Kebebasan Eksistensial di Dalam Keterbatasan Fisik

Film ini melakukan eksplorasi yang sangat menarik tentang konsep Kebebasan (Freedom) yang digaungkan oleh para filsuf eksistensial seperti Jean-Paul Sartre. Sartre berargumen bahwa "manusia dikutuk untuk bebas"; bahkan dalam situasi paling terbatas sekalipun, kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan makna hidup kita.

  • Philippe memiliki tubuh yang terpenjara secara absolut, namun ia memiliki kebebasan finansial yang tak terbatas. Penderitaan terbesarnya bukan rasa sakit fisik, melainkan hilangnya agensi atau kendali atas hidupnya sendiri (ia harus disuapi, dimandikan, dan dipindahkan seperti benda mati).

  • Driss memiliki tubuh yang sehat dan kuat, namun ia terpenjara oleh sistem sosial, kemiskinan, dan ekspektasi lingkungan kumuh di pinggiran Paris (banlieue).

Ketika kedua pria ini bersatu, mereka saling membebaskan. Driss membawa Philippe mengecap kembali sensasi kebebasan fisik yang ekstrem—membawanya ngebut dengan mobil Maserati, mengajaknya mengisap ganja untuk meredakan nyeri hantu (phantom pain), hingga membawanya terbang dengan paralayang. Sebaliknya, Philippe membebaskan pikiran Driss dari batas-batas mental kemiskinan dengan mengenalkannya pada musik klasik Vivaldi, seni lukis abstrak, dan sastra.

4. Estetika Seni: Jembatan Antara yang Tinggi dan yang Rendah

The Intouchables menggunakan seni sebagai medan pertempuran sekaligus jembatan filosofis antara budaya borjuis tinggi (high culture) dan budaya pop jalanan (low culture).

  • Momen ini digambarkan secara komis saat Driss menghadiri pertunjukan opera berdurasi empat jam dan tertawa terbahak-bahak melihat seorang aktor berpakaian seperti pohon menyanyikan bahasa Jerman. Driss membongkar pretensi dan kepalsuan masyarakat kelas atas yang menganggap seni harus kaku dan elitis.

  • Namun, film ini tidak merendahkan seni klasik. Ketika lagu September dari Earth, Wind & Fire dimainkan di pesta ulang tahun Philippe yang kaku, Driss mencairkan suasana dan membuat seluruh pelayan serta bangsawan berdansa.

Secara filosofis, seni dalam film ini didefinisikan ulang sebagai pengalaman universal yang membebaskan. Baik musik kamar Bach maupun musik funk modern memiliki fungsi yang sama: merayakan vitalitas kehidupan (élan vital) dan menghubungkan emosi manusia melampaui sekat-sekat kelas.

5. Konsep "The Intouchables" (Mereka yang Tak Tersentuh)

Judul film ini, The Intouchables, memiliki makna filosofis ganda. Dalam sistem kasta kuno, "Untouchable" adalah kelas terendah yang diasingkan dari masyarakat.

  • Philippe adalah seorang "intouchable" karena kondisi fisiknya. Di mata masyarakat, ia adalah orang cacat yang harus dikasihani dari jauh, sosok yang tubuhnya tidak bisa merasakan sentuhan fisik secara normal.

  • Driss adalah seorang "intouchable" secara sosiologis. Sebagai imigran kulit hitam dari pinggiran kota yang miskin, ia adalah kelas yang dihindari, dicurigai, dan tidak ingin "disentuh" oleh masyarakat elit Prancis.

Trilogi kebahagiaan mereka tercapai ketika kedua sosok yang "terasing" ini bersatu. Ketika mereka bersama, mereka menjadi "Tak Tersentuh" dalam arti yang positif: sebuah tim yang kebal terhadap sinisme dunia, kebal terhadap tatapan menghakimi masyarakat, dan tak terkalahkan oleh nasib buruk.

Kesimpulan

The Intouchables adalah sebuah ode untuk kehidupan (a celebration of life). Filsafat akhir dari film ini mengajarkan kita bahwa penderitaan terdalam manusia bukanlah kemiskinan atau kelumpuhan fisik, melainkan keterasingan jiwa. Kebahagiaan sejati tidak ditemukan ketika kita dikasihani atau diisolasi dalam kemewahan yang steril, melainkan ketika kita menemukan seseorang yang berani menatap menembus kekurangan kita, menertawakan kemalangan bersama kita, dan menuntut kita untuk tetap menjadi manusia yang berdaya.

Lanjutkan Eksplorasi

Temukan properti yang relevan setelah membaca artikel ini

Lanjutkan ke rekomendasi properti pilihan dan artikel lainnya untuk melengkapi riset Anda.

Property Editorial

Baca insightpropertidengan lebih nyaman

Dapatkan perspektif yang lebih jernih seputar tren pasar, tips membeli, strategi investasi, dan update industri properti untuk membantu Anda mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.

Insight pasar dan tren properti
Tips membeli, menjual, dan investasi
Panduan singkat yang mudah dipahami
Bacaan untuk keputusan yang lebih matang

Fokus Bacaan

Artikel pilihan untuk pengguna yang ingin belajar sambil mencari properti.

Update Pasar

Bantu pahami konteks pasar sebelum mengambil langkah berikutnya.

Lihat Semua Artikel
Properti Terbaru

Properti terbaru diPastirumah

Temukan listing yang baru tayang dengan komposisi visual yang lebih bersih, lebih cepat dipindai, dan lebih nyaman untuk mulai memilih properti yang sesuai kebutuhan Anda.

Listing terbaru yang dipilih lebih cepat
Foto dan informasi utama mudah dipindai
Cocok untuk mulai eksplorasi dari homepage
Update listing secara berkala
Lihat Semua Properti
Rumah baru siap huni dalam cluster di Cipayung Jaktim
RumahDijualBaru
HS175513

Cipayung, Kota Administrasi Jakarta Timur

Rumah baru siap huni dalam cluster di Cipayung Jaktim
Rp. 2,4 miliar
3
3
1
LT97
LB149
Tika Prakoso Profile Photo
Tika Prakoso
NIB: -
Agen Independen
RUMAH 3 LANTAI,3 KAMAR, SHM HARGA 2MAN DI JELAMBAR JAKARTA BARAT
RumahDijualSecond
HS184952

Tambora, Kota Administrasi Jakarta Barat

RUMAH 3 LANTAI,3 KAMAR, SHM HARGA 2MAN DI JELAMBAR JAKARTA BARAT
Rp. 2,2 miliar
4
3
0
LT68
LB199
Tanaka Tanaka Profile Photo
Tanaka Tanaka
NIB: -
Brighton Real Estate
Rumah siap huni dalam cluster di Pamulang Timur Tangsel
RumahDijualSecond
HS216989

Pamulang, Kota Tangerang Selatan

Rumah siap huni dalam cluster di Pamulang Timur Tangsel
Rp. 780 juta
2
2
2
LT112
LB80
Adi  Bowo Profile Photo
Adi Bowo
NIB: -
Agen Independen

Khusus untuk Agent Properti

50 Slot Pertama

Gratis Membership Premium 1 Tahun

Untuk 50 agent pertama yang ingin menampilkan video review TikTok langsung di halaman listing, agar calon pembeli bisa menonton dan melihat detail properti dalam satu halaman di Pastirumah.

Video TikTok langsung di listingSemua detail dalam satu halamanProfil agent lebih profesional
Daftar Sekarang

Mulai dari sekarang dan amankan slot promo Anda.

Pastirumah Promotion